Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Masih Terjebak

 Ku kira aku telah baik-baik saja Ternyata tak dapat ku bohongi rasa Tak dapat ku menipu luka Aku tak baik-baik saja Masih ada air mata yang tak dapat tertahan Masih sesak seakan ini baru terjadi Bagaimana bisa Aku belum berdamai pada rasa Aku bahkan belum terbiasa Aku masih terjebak Ku pikir aku sudah berjalan jauh Ternyata aku masih diam di tempat Tak terlukis pelangiku Badaiku belum juga berlalu Tak bisa ku temukan lembaran ku yang baru Aku masih mengharu biru Tak bisa aku temukan cahaya Ternyata aku masih terjebak dalam ruang hampa gelap gulita

Aku

 Ku peluk diri Ku tenangkan hati Ku coba sembuhkan luka Ku cintai aku Ku sayangi aku Ku pinta pada sang pencipta Aku tak ingin lagi terluka Ampuni aku Hilangkan harapku Hilangkan rasaku Aku tak ingin lagi kecewa Tak ingin harap pada Manusia Duhai Tuhan Tatalah pikiranku Rasaku Hatiku Duniaku Hidup dan matiku

Hujan

 Hujan malam ini Tidak seperti biasanya Hujan malam ini Sedikit berbeda Penuh sendu Pun rindu Hujan malam ini Penuh irama Sedikit tak bermakna Hujan malam ini Tidak menenangkan Tidak seperti biasanya Penuh duka nestapa Riuh rendah suara Tak bertuan Pesan tak tersampaikan Rasa terkatung-katung Ini usai Tidak, ini bersambung Atau akan tetap sedemikian Perlahan menghilang Seperti tak terjadi apapun Hujan malam ini Tak jadi penenang hati

Seharusnya

 Tak pernah di sangka Semua hanya akan jadi angan Jika tau begini Dulu .. Ku hentikan rasa Tak ku perkuat percaya Ku buang harap Ku permainkan cinta Menghilang Tak kembali Tak perlu publikasi Tak akan ada luka hati Seharusnya Tak perlu berjalan Tak perlu rasa ku hidupkan Sudah benar sempat berpikir pergi Kenapa tak ku lakukan Aku pun terjebak Dalam rasa yang tak karuan Aku pun terjebak Dalam luka yang dalam Mengertilah Percayalah Berpikirlah Kau begitu naif Mencari pembenaran Membunuh untuk menghidupkan Berhentilah Seharusnya Aku tidak buta Seharunya Aku paham Seharusnya Ku perkuat ragu ku Mungkin semua tak akan begini Kini aku terjebak Dalam luka

Bedalih

 Kau menyembuhkannya Namun, kau menghancurkan ku Kau menengkannya Namun, kau membakarku Tanaman yang ku pupuk sebegitu indah Kini kau bakar Tidak lagi kering, ini hampir mati Sesak.. Tak ada udara Kau membunuh ku Dengan caramu yang kau anggap biasa Kau merasa benar, kau salah sangka Sesama wanita Tidak... Tidaaak Aku bahkan tidak sudi kau sama kan dengannya Sebab perlakuannya, caranya  Bertentangan dengan ku Celaka. Aku tak sudi kau samakan dengannya  Kalimat apa yang pantas untuknya Untukmu, untuk semua Untuk semua rasa Untuk semua gerak gerik Persetan semua yang kau katakan Persetan dengan semua rasa Dia masih bernafas, aku kehabisan nafas Persetan.... Berdalih-dalih Dengan diam Kau salah sangka Oh, ini terlalu sakit Dalam begitu dalam Kini luka mulai kembali terbuka Terima Kasih Seakan kau penuh kecewa Seakan kau penuh luka Kau menderita Aku kalut pun kusut Aku tertawa pun gila Aku terbakar

Kalut

 Ku pikir kau paham aku Gerak gerik Hiruk pikuk  Sepenuhnya aku Kalut Aku pun kusut Kau salah sangka Aku perasa Diam membara Tidak kau tenangkan Datang Ucapkan, maafkan aku Jangan berfikir terlalu jauh Kembalilah, jangan begini Tidak, kau bertindak sesuka mu Aku perasa, aku membara Aku terbakar Kau pun tak jadi air Datang tenangkan aku Kau bunuh aku, tercemar udara ku Kau salah, kau menyalahkan Kau salah, kau pun tak ingin salah Ikut campur Sama sekali tidak Kau salah sangka Kau salah Aku terluka, aku membara Padamkan, kau acuh, kau tidak perduli Ikut campur, sama sekali tidak Tidak ada yang bisa mencampuri rasaku Aku perasa, aku membara  Memaknai setiap yang kau bagikan Aku perasa, aku membara Aku marah, tak suka namun, hanya diam Bertengkar dengan isi kepala

Kopi ku

 Aku hampa Berteriak tanpa suara Lagi Kopi ku lebih pekat pun pahit Kopi ku agak berbeda Ia kecewa Luka, tak karuan Kopi ku agak berbeda Ia tersesap tak begitu nikmat Tak juga menenangkan Kopiku lebih pekat Pahit Manis pun tak bisa ku temukan Pahit pun masih dapat ku minum Racun pikirku Bukan ini kopi mu Bukan bukan... Ini rasaku Ini seluruh rasa yang kau beri Pekat Tak lagi manis yang kurasa Hanya pahit Kopiku berbeda Kopiku lebih pekat pun sangat pahit.

Berlalu

 Oktober sudah selesai Akankah luka juga usai Tidak, luka tetap tinggal Sakit... Jelas masih terasa Kau bungkam Tak tahu apa yang kau pikirkan Tidak tau sebenarnya apa mau mu Kau bungkam... Seolah tak ada kalimat yang mampu kau ucap Kau ini kenapa, teriakku dalam diam Kau bungkam Seolah ini semua telah kau jelaskan Kau bungkam Sikapmu benar tak mencari, tak juga khawatir Aku diam di tempat Mendengarkan setiap kalimat yang yang dikatakan semesta Aku diam di tempat Tak bergerak, penuh pertanyaan Penuh akan khawatir yang membuat ku benar-benar terperosok pada lubang yang kau buat. Simpel saja, aku hanya ingin kau tenangkan Simpel saja, aku hanya butuh kau cari Kau bujuk bahkan kau rayu.. Namun kalimat "Maafkan aku duhai kasih" pun tidak kunjung kau ungkapkan. Aku ini perasa pun pemikir, aku marah aku diam.  Mencerna setiap kalimat mu, memaknai setiap apapun yang kau buat. Aku perasa, pun pemikir, ku maknai setiap yang kau bagikan. Aku diam, aku marah, ini membara tetapi kau sala...

Haru

 Sayang... Aku merindu mu sebegitu dalam Mencari hangat dalam dinginnya sikapmu Memeluk bayang mu dalam angan Banyak pertanyaan yang ingin aku dapatkan jawaban Namun, sepertinya kau sudah tak mau tau Banyak sekali harap tercurah padamu Tetapi sepertinya kau ingin menjauh Secepat inikah Secepat inikah kau berlalu Aku ingin berteriak Namun, sepertinya kau tutup telinga Aku mencari-cari obat pada yang lain, tetapi tak kutemukan Secepat inikah kau temukan nyaman pada yang lain Boleh tidak, jika aku mengatakan kau begitu kejam Kenapa tak kau selesai kan dulu kisah ini Sungguh aku tak sudi jika harus berbagi rasa Sungguh kau memberi luka dan takut, menyerang ku secara bersamaan Sungguh seakan aku kembali terperosok sangat dalam. Perkataan mu sungguh tak bisa aku jadikan pegangan Saat sikapmu yang seolah menjelaskan seluruh keadaan

Kamu Itu Siapa?

 "Aku tidak perduli jika kekasihnya datang memaki dan menemui ku, karena lelaki ini memilih ku dari pada kekasihnya itu". Begitu ucap seorang perempuan yang tidak aku kenal dan mengklaim dirinya sebagai yang terpilih.  Aku ingin sekali bertanya padanya, atas dasar apa kamu mengatakan itu? Aku tidak pernah sama sekali mengganggumu, jangankan mengganggu mu. Aku tidak mengenal mu, aku dan kamu bahkan tidak pernah saling sapa. Siapa kamu yang sungguh tega merusak ceritaku, demi menghidupkan cerita mu. Perkataan ku yang mana yang pernah menyakiti hati mu? Sehingga kamu berperilaku sebegitu menyakitkan. Atau pernah terluka oleh perbuatan ku yang mana? Sehingga kamu menikam ku sebegitu kejam. Sekali lagi, kamu itu siapa dan pernah tersakiti oleh perbuatan serta perkataan ku yang mana? Mengapa begitu? Ada masalah apa kamu dengan ku? Mengusik kehidupan, tertawa di atas luka. Bukankah kamu juga perempuan, sama sepertiku, seharusnya sebelum bertindak kamu harus berfikir akan ada orang y...

Takut

 Ku pandangi sebegitu lekat fotomu Banyak sekali tanya yang ingin aku dapatkan jawaban Duhai kasih, tidakkah kau memahami aku.. Tidakkah kau tau Aku diam di tempat.. Namun, kau buat lubang sebegitu dalam Kini aku jatuh dan terperosok  Sesak... Gelap... Aku takut... Takuuut  Tidakkah kau tau Aku takuuut akan diriku sendiri Tidakkah kau memahami aku Tidakkah kau tahu Dampak dari perbuatan mu Sesaaak Sungguh seperti tak ada udara Sakit Sungguh ini luka yang begitu dalam Apa yang dapat ku lakukan Memaki mu? Memaafkan mu? Aku pun tidak tahu.. Bagaimana aku akan berdamai

Ruang Hampa

 Aku memberi mu ruang kebebasan Dan biarkan aku berada dalam ruang hampa Berdiam dalam sunyi Berisik dalam pikiran Mengusik diri sendiri Biarkan aku berada dalam ruang hampa Berteriak tanpa suara Bertanya tanpa jawaban Biarkan aku berada dalam ruang hampa Gelap gulita Meski begitu aku mencari bayangmu Biarkan aku berada dalam ruang hampa Tanpa suara Biarkan aku berada dalam ruang hampa Tanpa kabar berita Biarkan aku berada dalam ruang hampa Berkecamuk tentang segala rasa Biarkan aku berada dalam ruang hampa Tanpa udara Biarkan aku berada dalam ruang hampa Tanpa siapa-siapa Biarkan aku berada dalam ruang hampa Tanpa aku yang sebelumnya

Baru Saja Sembuh

 Baru saja sembuh Bodohnya aku terlalu banyak menaruh harap Baru saja sembuh Bodohnya aku terlalu mempercayai Baru saja sembuh Bodohnya aku sungguh bodoh Baru saja sembuh Baru saja... Sungguh tak mudah Ini sulit Baru saja sembuh Aku kembali pada luka sediakala Baru sembuh Aku kembali merasa tak karuan Baru saja sembuh Aku kembali takut Baru saja sembuh Aku kembali pada rasa sesak Baru saja sembuh Baru saja... Aku kembali merasa seperti saat dulu Baru saja sembuh Aku kembali kalut Baru saja sembuh Baru saja

Biarkan

 Apa kabar hatimu? Bagaimana keadaan rasamu? Berharap segala yang terbaik untuk mu, adalah caraku berdamai pada setiap kejadian yang telah kita lalui. Semoga Tuhan senantiasa memberikan apa-apa yang terbaik untuk hidupmu. Mari bersama-sama mendewasakan diri dari kejadian serta cerita yang kita alami. Memfokuskan diri pada apapun yang akan kita gapai. Menyibukkan diri dalam diam. Belajar untuk tidak saling menyakiti diri masing-masing. Untuk saat ini tidak apa jika begini.. Berdiam tanpa kabar, menanti waktu yang terbaik menurut semesta. Terbelenggu rindu yang tak kunjung bertemu Memeluk dalam bayang serta angan Berusaha menjaga rasa yang ada. Senantiasa berdoa pada Tuhan, jika kita benar-benar ditakdirkan untuk membersamai, tak perduli jarak yang membentang, tak perduli apapun yang terjadi, tak perduli sedingin apapun kita saat ini, Tuhan akan mempersatukan. Mari saling menyabarkan hati, menguatkan diri. Berusaha untuk selalu berfikiran baik. Pada tempias hujan aku selalu berpesan,...

Duhai Hujan

 Duhai hujan Kau hadir tepat waktu Aku merindu Kau hadir seakan tau rasaku Aku menunggu Duhai hujan Kau hadir tepat waktu Aku mencarimu Duhai hujan Kau hadir tepat waktu Aku ingin mendekapmu Duhai hujan Kau hadir memberiku waktu Kembali melepas rindu mengirim sendu Duhai hujan Kau hadir tepat waktu Rintik mu selalu bisa memahami rasaku Duhai hujan Kau hadir tepat waktu Memberiku pesan perdamaian diriku Meminta waktu, mendekap dalam diam Lagi-lagi rintik mu selalu memberiku pesan kekuatan. Apa yang dapat aku lakukan selain berterima kasih akan hadirmu yang selalu tepat waktu.

Di setiap aku

 Padahal disetiap aku Memiliki trauma tanpa disadari Ternyata disetiap aku butuh psikolog namun disembuhkan oleh waktu serta keadaan. Di setiap aku, banyak ragu, namun tetap meyakinkan diri. Di setiap aku, sudah pernah terjatuh bahkan terjungkal Di setiap aku, butuh tempat untuk pulang Di setiap aku, terdapat berjuta ketakutan, namun di setiap aku dikuatkan oleh keadaan Di setiap aku memiliki cerita kelam Di setiap aku sulit mencari sandaran Tidak tahu kenapa setalah lama terbelenggu oleh keadaan di setiap aku sudah merasa nyaman ingin mengakhiri segala pencarian Di setiap aku sudah memutuskan untuk tidak lagi kesana kemari, dalam diam disetiap aku masih saja merasa terluka. Tak lagi ingin mencari, namun ternyata di setiap aku masih saja seperti tak dijadikan tempat untuk pulang. Berusaha untuk tidak menyapa yang lain, tetapi tidak juga diperlakukan yang sama, mungkin belum? Begitu kataku pada diriku sendiri Di setiap aku mari menguatkan diri sendiri, berterima kasih pada diri send...

Hujan Bulan Oktober

 Hujan bulan Oktober Berterima Kasih pada hujan yang telah hadir tepat waktu Di setiap tetes hujan terhempas ke bumi adalah bentuk syukur atas segala nikmat Tuhan.. Di setiap tetes hujan yang terhempas ke bumi adalah bentuk rindu yang telah lama terbelenggu Di setiap tetes hujan yang terhempas ke bumi adalah sapa yang menenangkan Aku suka hujan, sebab tak hanya kepada bumi hati ku pun turut serta merasakan cintanya Tak hanya pada bumi, hatiku pun turut serta merindukan  Tidak hanya bumi, aku pun selalu menunggu hadirnya Sungguh hujan seakan paham akan segala rasa yang tersembunyi.. Ia hadir tepat waktu, memeluk sejuk serta dalam, seolah dua insan yang saling melepas rindu.  Hujan hadir tepat waktu, seakan gemericik nya berbisik menguatkan "Tidak apa-apa, menangis lah, aku akan menutupi air matamu, aku akan membasuh lukamu, tenang ada aku" sungguh indah serta menenangkan.. Berterima Kasih kepada hujan, telah mampu memahami tanpa diberitahu 

Oktober

Bukankah tidak seharusnya oktober kali ini menjadi sedikit kelabu.. Mengharu biru.. Seakan ini akan berakhir.. Mengharu biru.. Kejadian ini sungguh yang pertama kali.. Mengharu biru.. Tidak disangka selama ini akan ada emosi yang begitu meledak-ledak.. Mengharu biru.. Aku ingin berteriak Meski mengharu biru biarkan ini berlalu  Oktober kali ini kelabu, kembali memberi pelajaran.. Biarkan oktober kali ini sedikit kelabu.. Meski begitu aku tetap ingin bersamamu.

Rasa Kopi

 Kopi pekat tanpa gula... Terseduh dari kumpulan rasa.. Tercampur bahagia serta banyak sekali kecewa.. Menyesap seraya berkata kenapa kopi tanpa gula ini tak pahit? Ternyata ada ada rasa yang lebih pahit yang baru saja terjadi. Meski begitu, nikmat sekali seolah pahit adalah rasa yang biasa saja.. Apa lagi yang lebih nikmat dari kopi yang terseduh bercampur dengan rasa yang tak karuan. Meski begitu ini terasa sangat nikmat. Menyesap seraya terus mengingat kejadian yang tak sesuai harap.. Sungguh menikmati kopi adalah cara terbaik berdamai akan seluruh ke tidak karuan saat fajar sampai terbenam hari ini. Berdamai pada kenyataan yang tak sesuai harap.. Belajar untuk tetap tenang disaat hati porak-poranda  Belajar untuk terus mencintai diri sendiri, mencintai setiap detik kehidupan, setiap luka serta bahagia.. Belajar untuk memaafkan diri sendiri, berdamai pada diri sendiri di setiap kejadian.. Sungguh nikmat kopi pekat tanpa gula. Terseduh bercampur rasa yang diberikan semesta.

Sesak

 Sesak sekali rasanya jika harus berpura-pura tidak apa-apa.. Sesak sekali rasanya saat mengatur intonasi suara agar terdengar baik. Sesak seakan bernapas di laut dalam. Sesak saat aku memaksa diri sendiri untuk terlihat baik-baik saja. Sesak saat berusaha untuk diam.. Saat aku seharunya mengungkapkan kecewa dan luka. Sesak saat harus menyembunyikan segalanya Sesak saat tidak menyapa, padahal ada rindu tak berkesudahan, tidak sedang menunggu sebab memang tidak diberi waktu. Bukan tidak menunggu, hanya saja mengalihkan agar tidak begitu menunggu Sesak saat harus diam ditempat, tergantung tanpa digantung. Aku memahami mu, hanya saja aku berusaha memahami perasaan ku. Sesak saat tetap bertahan meski sakit terkadang menghampiri, aku terjebak akan rasaku yang sungguh tak karuan.

Gila

 Oh Tuhan Aku ini kenapa? Ingin teriak namun apa yang harus dilontarkan. Bolehkan aku mengumpat, tanyaku sembari berteriak meski mulut tertutup rapat. Ya Tuhan.. Aku gila, pikirku sembari mencari solusi.. Bisakah waktu berputar kembali? Pintaku diakhir keputusasaan... Aaaaaaa! Hanya satu huruf yang mampu aku ucapkan. Saat benar-benar aku harus mengakhiri segala kekacauan pikiran.

Siapa.. aku?

 Aku ini siapa, tanya hatiku... Terpuruk dalam sepi Terkurung dalam kegelapan Mencari jalan yang tak kunjung aku temukan Aaahhh aku mulai bosan Pada aku yang tak karuan Seperti tidak memiliki tujuan Adakah yang tau aku... Bertanya pada mereka.. aku tak kunjung dapat jawaban.