Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2022

Aku

 Ku peluk diri Ku tenangkan hati Ku coba sembuhkan luka Ku cintai aku Ku sayangi aku Ku pinta pada sang pencipta Aku tak ingin lagi terluka Ampuni aku Hilangkan harapku Hilangkan rasaku Aku tak ingin lagi kecewa Tak ingin harap pada Manusia Duhai Tuhan Tatalah pikiranku Rasaku Hatiku Duniaku Hidup dan matiku

Hujan

 Hujan malam ini Tidak seperti biasanya Hujan malam ini Sedikit berbeda Penuh sendu Pun rindu Hujan malam ini Penuh irama Sedikit tak bermakna Hujan malam ini Tidak menenangkan Tidak seperti biasanya Penuh duka nestapa Riuh rendah suara Tak bertuan Pesan tak tersampaikan Rasa terkatung-katung Ini usai Tidak, ini bersambung Atau akan tetap sedemikian Perlahan menghilang Seperti tak terjadi apapun Hujan malam ini Tak jadi penenang hati

Seharusnya

 Tak pernah di sangka Semua hanya akan jadi angan Jika tau begini Dulu .. Ku hentikan rasa Tak ku perkuat percaya Ku buang harap Ku permainkan cinta Menghilang Tak kembali Tak perlu publikasi Tak akan ada luka hati Seharusnya Tak perlu berjalan Tak perlu rasa ku hidupkan Sudah benar sempat berpikir pergi Kenapa tak ku lakukan Aku pun terjebak Dalam rasa yang tak karuan Aku pun terjebak Dalam luka yang dalam Mengertilah Percayalah Berpikirlah Kau begitu naif Mencari pembenaran Membunuh untuk menghidupkan Berhentilah Seharusnya Aku tidak buta Seharunya Aku paham Seharusnya Ku perkuat ragu ku Mungkin semua tak akan begini Kini aku terjebak Dalam luka

Bedalih

 Kau menyembuhkannya Namun, kau menghancurkan ku Kau menengkannya Namun, kau membakarku Tanaman yang ku pupuk sebegitu indah Kini kau bakar Tidak lagi kering, ini hampir mati Sesak.. Tak ada udara Kau membunuh ku Dengan caramu yang kau anggap biasa Kau merasa benar, kau salah sangka Sesama wanita Tidak... Tidaaak Aku bahkan tidak sudi kau sama kan dengannya Sebab perlakuannya, caranya  Bertentangan dengan ku Celaka. Aku tak sudi kau samakan dengannya  Kalimat apa yang pantas untuknya Untukmu, untuk semua Untuk semua rasa Untuk semua gerak gerik Persetan semua yang kau katakan Persetan dengan semua rasa Dia masih bernafas, aku kehabisan nafas Persetan.... Berdalih-dalih Dengan diam Kau salah sangka Oh, ini terlalu sakit Dalam begitu dalam Kini luka mulai kembali terbuka Terima Kasih Seakan kau penuh kecewa Seakan kau penuh luka Kau menderita Aku kalut pun kusut Aku tertawa pun gila Aku terbakar

Kalut

 Ku pikir kau paham aku Gerak gerik Hiruk pikuk  Sepenuhnya aku Kalut Aku pun kusut Kau salah sangka Aku perasa Diam membara Tidak kau tenangkan Datang Ucapkan, maafkan aku Jangan berfikir terlalu jauh Kembalilah, jangan begini Tidak, kau bertindak sesuka mu Aku perasa, aku membara Aku terbakar Kau pun tak jadi air Datang tenangkan aku Kau bunuh aku, tercemar udara ku Kau salah, kau menyalahkan Kau salah, kau pun tak ingin salah Ikut campur Sama sekali tidak Kau salah sangka Kau salah Aku terluka, aku membara Padamkan, kau acuh, kau tidak perduli Ikut campur, sama sekali tidak Tidak ada yang bisa mencampuri rasaku Aku perasa, aku membara  Memaknai setiap yang kau bagikan Aku perasa, aku membara Aku marah, tak suka namun, hanya diam Bertengkar dengan isi kepala

Kopi ku

 Aku hampa Berteriak tanpa suara Lagi Kopi ku lebih pekat pun pahit Kopi ku agak berbeda Ia kecewa Luka, tak karuan Kopi ku agak berbeda Ia tersesap tak begitu nikmat Tak juga menenangkan Kopiku lebih pekat Pahit Manis pun tak bisa ku temukan Pahit pun masih dapat ku minum Racun pikirku Bukan ini kopi mu Bukan bukan... Ini rasaku Ini seluruh rasa yang kau beri Pekat Tak lagi manis yang kurasa Hanya pahit Kopiku berbeda Kopiku lebih pekat pun sangat pahit.

Berlalu

 Oktober sudah selesai Akankah luka juga usai Tidak, luka tetap tinggal Sakit... Jelas masih terasa Kau bungkam Tak tahu apa yang kau pikirkan Tidak tau sebenarnya apa mau mu Kau bungkam... Seolah tak ada kalimat yang mampu kau ucap Kau ini kenapa, teriakku dalam diam Kau bungkam Seolah ini semua telah kau jelaskan Kau bungkam Sikapmu benar tak mencari, tak juga khawatir Aku diam di tempat Mendengarkan setiap kalimat yang yang dikatakan semesta Aku diam di tempat Tak bergerak, penuh pertanyaan Penuh akan khawatir yang membuat ku benar-benar terperosok pada lubang yang kau buat. Simpel saja, aku hanya ingin kau tenangkan Simpel saja, aku hanya butuh kau cari Kau bujuk bahkan kau rayu.. Namun kalimat "Maafkan aku duhai kasih" pun tidak kunjung kau ungkapkan. Aku ini perasa pun pemikir, aku marah aku diam.  Mencerna setiap kalimat mu, memaknai setiap apapun yang kau buat. Aku perasa, pun pemikir, ku maknai setiap yang kau bagikan. Aku diam, aku marah, ini membara tetapi kau sala...

Haru

 Sayang... Aku merindu mu sebegitu dalam Mencari hangat dalam dinginnya sikapmu Memeluk bayang mu dalam angan Banyak pertanyaan yang ingin aku dapatkan jawaban Namun, sepertinya kau sudah tak mau tau Banyak sekali harap tercurah padamu Tetapi sepertinya kau ingin menjauh Secepat inikah Secepat inikah kau berlalu Aku ingin berteriak Namun, sepertinya kau tutup telinga Aku mencari-cari obat pada yang lain, tetapi tak kutemukan Secepat inikah kau temukan nyaman pada yang lain Boleh tidak, jika aku mengatakan kau begitu kejam Kenapa tak kau selesai kan dulu kisah ini Sungguh aku tak sudi jika harus berbagi rasa Sungguh kau memberi luka dan takut, menyerang ku secara bersamaan Sungguh seakan aku kembali terperosok sangat dalam. Perkataan mu sungguh tak bisa aku jadikan pegangan Saat sikapmu yang seolah menjelaskan seluruh keadaan

Kamu Itu Siapa?

 "Aku tidak perduli jika kekasihnya datang memaki dan menemui ku, karena lelaki ini memilih ku dari pada kekasihnya itu". Begitu ucap seorang perempuan yang tidak aku kenal dan mengklaim dirinya sebagai yang terpilih.  Aku ingin sekali bertanya padanya, atas dasar apa kamu mengatakan itu? Aku tidak pernah sama sekali mengganggumu, jangankan mengganggu mu. Aku tidak mengenal mu, aku dan kamu bahkan tidak pernah saling sapa. Siapa kamu yang sungguh tega merusak ceritaku, demi menghidupkan cerita mu. Perkataan ku yang mana yang pernah menyakiti hati mu? Sehingga kamu berperilaku sebegitu menyakitkan. Atau pernah terluka oleh perbuatan ku yang mana? Sehingga kamu menikam ku sebegitu kejam. Sekali lagi, kamu itu siapa dan pernah tersakiti oleh perbuatan serta perkataan ku yang mana? Mengapa begitu? Ada masalah apa kamu dengan ku? Mengusik kehidupan, tertawa di atas luka. Bukankah kamu juga perempuan, sama sepertiku, seharusnya sebelum bertindak kamu harus berfikir akan ada orang y...